oleh

Dua Kelompok Nelayan Bersitegang Dengan Adanya Penggunaan Alat Tangkap Garok Kerang Tanjungpakis

www.kobra86.id

Perseteruan sesama nelayan antara nelayan jaring udang dengan nelayan peng – garok kerang, di laut tanjungpakis. beberapa hari belakangan akhirnya dapat di selesaikan per setegangan nya melalui jalan musyawarah di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Bahari Tanjungpakis pada Sabtu (19/09/2020).

Sementara itu, Iwan Tanje (40). Kelompok nelayan udang mengatakan “Dalam hal pelarangan penggunaan alat tangkap bagi nelayan kerang, yang menggunakan alat peng garok jauh-jauh hari atas nama sesama nelayan, sudah kami berikan himbauan maupun peringatan agar jangan sampai menggunakan alat tangkap garok walaupun itu sebatas mencari kerang.

Dalam mencari ikan, udang, maupun kerang, di laut tanjungpakis kalau bisa jangan lah ada yang menggunakan alat tangkap garok lagi. karena jelas-jelas itu sudah ada larangan pemerintah. yang notabene akan merusak ekosistem laut serta tidak ramahnya akan lingkungan di sekitar.”ucapnya.

Lanjut, Iwan Tanje. katakan “melalui musyawarah di (TPI) Bahari Tanjungpakis ini, antara kelompok nelayan udang dan ikan serta nelayan peng garok kerang. terjadinya kesalah pahaman kami dari masing-masing kelompok akhirnya bisa saling terselesaikan melalui diskusi sekaligus musyawarah yang di saksikan langsung oleh Polairud, Pemdes Tanjungpakis, serta instansi terkait juga Muspika Pakisjaya “terangnya.

Berita acara kesepakatan yang di tandatangani oleh kedua belah pihak tersebut bersepakat. mulai saat ini nelayan di laut Tanjungpakis melarang penggunaan alat tangkap berbentuk alat “garok” dengan alasan apapun baik untuk nelayan tengah maupun nelayan pinggir, baik pencari ikan maupun kerang sekalipun.

Petugas Satuan Polairud pun akan melakukan pengawasan dan melakukan penindakan kepada para nelayan jika terlihat ada yang masih membandel. “Kalau perlu, di tindak secara hukum, karena sudah melanggar peraturan kementerian serta kesepakatan yang telah di tandatangani secara bersama.”ungkapnya.

Baca Juga  Bakti Sosial Anggota GESRA Penggalian Saluran Tersier Dusun Pegadungan Dan Talagajaya.

Lain halnya yang di sampaikan Herman (50). kelompok nelayan garok. dirinya berharap “kepada pemerintah daerah juga harus secepatnya berperan dengan upaya sesegera mungkin memberikan bantuan alat tangkap yang ramah lingkungan. Sehingga, nelayan garok kerang, tidak lantas kehilangan mata pencahariannya, manakala alat tangkap yang mereka miliki itu bertentangan dengan aturan, kalau bisa di ganti dengan alat tangkap yang sesuai dengan aturan yang ada.

Di sini, pemerintah tidak hanya mengeluarkan kebijakan larangan, tapi juga memberikan solusi alternatif. Sehingga, kebijakan bertujuan melindungi ekosistem laut, juga menguntungkan bagi nelayan penduduk di sekitar,” tegasnya.

Artinya, pemerintah juga harus memberikan apresiasi kepada nelayan yang sudah sadar dan rela menyerahkan alat tangkapnya yang dianggap merusak, dengan cara memberikan pengganti alat tangkap yang tidak merusak ekosistem laut kepada nelayan garok kerang.

Apresiasi nelayan atas tindakan tegas pemerintah ini, harus dibalas dengan apresiasi yang saling menguntungkan. Karena, bagaimana pun juga nelayan adalah ujung tombak penghasil devisa negara maupun daerah dari sektor kelautan apapun jenis tangkapannya.” ungkapnya.

Sejauh ini nelayan peng garok kerang mereka masih merasa bingung mencari alat penggantinya, ditambah pemerintah hanya memberlakukan larangan saja, tanpa memberikan solusi yang bisa menguntungkan nelayan peng garok kerang, yang padahal banyak nya kerang itu kan hanya di waktu tertentu dan di saat musiman saja adanya.

Ini fakta di lapangan, jangan sampai kesadaran nelayan ini, tidak di imbangi dengan kepedulian pemerintah kepada nelayan garok, dengan memberikan bantuan alat yang lebih baik. Karena, jika para nelayan sudah putus asa, di khawatirkan mereka kembali menggunakan alat tangkap yang sudah di larang,” terangnya.

(A. Sumadi).

Komentar

News Feed